EFEK TAYANGAN KEKERASAN DI TV

-->
A. LATAR BELAKANG
Apabila kita membicarakan tentang kekerasan, mungkin kita akan merasa ngeri, takut, marah, atau bahkan takut. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak pernah terlepas dari kekerasan. Entah kita ini sebagai pelaku kekerasan, korban kekerasan, ataupun hanya sebagai saksi atas kekerasan yang dialami oleh orang lain. Sebenarnya, Kekerasan merupakan tindakan agresi dan pelanggaran (penyiksaan, pemukulan, pemerkosaan, dan lain-lain) yang menyebabkan atau dimaksudkan untuk menyebabkan penderitaan atau menyakiti orang lain, dan hingga batas tertentu tindakan menyakiti binatang dapat dianggap sebagai kekerasan, tergantung pada situasi dan nilai-nilai sosial yang terkait dengan kekejaman terhadap binatang. Istilah "kekerasan" juga mengandung kecenderungan agresif untuk melakukan perilaku yang merusak.
Kekerasan pada dasarnya tergolong ke dalam dua bentuk -- kekerasan sembarang, yang mencakup kekerasan dalam skala kecil atau yang tidak terencanakan, dan kekerasan yang terkoordinir, yang dilakukan oleh kelompok-kelompok baik yang diberi hak maupun tidak -- seperti yang terjadi dalam perang (yakni kekerasan antar-masyarakat) dan terorisme.
Perilaku kekerasan semakin hari semakin nampak, dan sungguh sangat mengganggu ketentraman hidup kita. Jika hal ini dibiarkan, tidak ada upaya sistematik untuk mencegahnya, tidak mustahil kita sebagai bangsa akan menderita rugi oleh karena kekerasan tersebut. Kita akan menuai akibat buruk dari maraknya perilaku kekerasan di masyarakat baik dilihat dari kacamata nasional maupun internasional.
Saat ini kita sebagai bangsa sudah dituding oleh beberapa negara lain sebagai sarang teroris, terlepas dari benar tidaknya tudingan itu. Di mata mancanegara, hidup di Indonesia menyeramkan. Sedangkan sebaliknya, kita di negri ini yang setiap hari hampir tak pernah bebas dari berita-berita kekerasan, mulai dibelajarkan dan terbiasa. Tuntutan untuk survive dan ketidakmungkinan untuk mengelakkan, menyebabkan masyarakat belajar hidup dalam situasi yang paling sulit sekalipun. Dan pada akhirnya perlahan-lahan kita mulai menerima karena terbiasa.
Kalau tiba-tiba jalanan macet tanpa sebab, kita tidak lagi panik, tapi langsung berpikir kalau bukan demo, pelajar berkelahi atau ada bom. Dengan jawaban itu ada semacam ketenangan, sesuatu yang sering terjadi yang menyebabkan respon yang ditimbulkan menjadi biasa-biasa saja.
Perilaku kekerasan dapat dipicu oleh berbagai faktor. Salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya kekerasan adalah peniruan tindak kekerasan dari berbagai media pemberitaan. Seperti yang kita ketahui saat ini, banyak sekali berita-berita yang menggambarkan kekerasan seperti berita kriminal, konflik, ataupun kerusuhan. Berita-berita itu dimuat dalam berbagai media, baik itu media cetak seperti majalah dan koran maupun media elektronik seperti televisi, radio, dan internet.
Dari semua media tersebut, yang paling sering diperhatikan oleh masyarakat adalah tayangan kekerasan dari televisi. Hampir setiap warga masyarakat memiliki televisi. Televisi telah menjadi sebuah barang kebutuhan dalam sebuah rumah tangga. Televisi hanyalah sebuah kotak yang bisa dimatikan atau dibuang, bisa sebagai sumber malapetaka atau sumber pengetahuan. Kendali utama mestinya tetap pada pencipta televisi, yakni manusia. Banyaknya bukti dampak tayangan kekerasan hendaknya menjadi informasi tambahan untuk mengkaji ulang perilaku kita dalam menonton televisi. Sudahkah kita menjadikan televisi sebagai pilihan di antara banyak pilihan aktivitas positif lain dalam melepas kepenatan, atau televisi yang menguasai setiap detik kehidupan kita? Selain mempunyai sisi positif, keberadaan televisi juga bisa menimbulkan efek negatif. Televisi dipercaya mampu mempengaruhi sikap dan perilaku penonton. Unsur audio dan visual merupakan kelebihan televisi dibanding media lainnya.
Jadi, tidak mengherankan apabila tayangan kekerasan sudah dianggap biasa oleh masyarakat. Masyarakat tidak pernah mengetahui apakah tayangan itu berbahaya atau tidak. Bagi masyarakat, tayangan kekerasan di televisi hanyalah sebuah hiburan dan tidak membahayakan. Memang benar, itu hanyalah sebuah tayangan dan sama sekali tidak berbahaya. Namun, dibalik tayangan kekerasan itu, kita bisa saja mencontoh apa yang dilakukan oleh pelaku-pelaku kekerasan di televisi. Terutama bagi anak-anak, mereka akan merasa terbiasa dengan tindak kekerasan. Hal itu memungkinkan anak-anak melakukan tindak kekerasan tanpa adanya rasa takut. Seperti yang pernah terjadi beberapa waktu lalu, akibat meniru adegan dalam tayangan televisi ‘smack down’, seorang anak meninggal dan seorang anak lain mengalami patah tulang. Tentu kita merasa prihatin atas kejadian ini. Anak-anak yang tidak tahu apa-apa, menirukan begitu saja adegan kekerasan yang bagi mereka hanya berupa hiburan.
Tidak hanya itu, tayangan pemberitaan kriminal pun bisa saja menimbulkan akibat yang sama. Hampir setiap hari di hampir setiap stasiun televisi yang ada di negeri ini, selalu menampilkan tayangan tentang berbagai kasus kriminal. Entah bertujuan untuk menunjukkan betapa negeri ini sudah aman dengan aparat yang sungguh sigap atau justru sebaliknya, yaitu menunjukkan bahwa hidup kita semakin terancam, tetapi yang pasti tercatat ada Buser, Investigasi, Patroli, Halo Polisi, Sergap dan beberapa tayangan lain sejenis. Masing - masing tayangan di rancang secara khusus, meski tak jarang materi berita -kasus- yang disampaikan sama.Sebuah keprihatinan muncul sebagai efek dari maraknya tayangan tersebut.
Bukan keprihatinan berkait dengan tayangan yang bersangkutan, melainkan keprihatinan ketika mendapati dalam setiap tayangan diberitakan adanya tindak kejahatan berupa penyelewengan seksual -dari pencabulan sampai perkosaan. Terutama ketika ternyata yang terlibat -sebagai tersangka- bukan saja orang dewasa yang memang sudah faham tentang segala konsekuensi peyelewengan seksual, namun juga remaja, bahkan tak jarang anak - anak yang sesungguhnya masih butuh pengetahuan lebih tentang hal tersebut.
Berkat maraknya acara-acara yang menayangkan kekerasan, banyak stasiun televisi menggunakan adegan kekerasan sebagai hal pokok pada setiap tayangannya. Mulai dari berita hingga program yang dirancang sebagai hiburan seperti film baik dari Asia – Amerika. Kekerasan hampir menjadi menu utama yang disajikan di televisi. Selain berita yang banyak diwarnai oleh tindakan anarkis para demonstran hingga liputan kriminal, televisi kita masih menawarkan tayangan film-film asing yang tidak lepas dari adegan memukul, menendang, adu tembak, hingga darah yang berceceran sebagai hiburan. Seolah, tak ada film lain yang menarik tanpa salah satu adegan tersebut yang patut untuk dihadirkan di ruang keluarga penonton Indonesia.
Tayangan lokal pun tidak mau kalah, dari membentak, mata melotot, menampar dan meneriakkan kata makian menjadi andalan di setiap iklan tayangannya. Coba sesekali sediakan secarik kertas dan pena kala melihat tayangan berita, hitunglah berapa iklan tayangan baik film asing atau sinetron yang menunjukkan adegan kekerasan. Lain waktu, tambahkan kolom untuk juga mencatat berita kekerasan yang ditampilkan. Sungguh menakjubkan, untuk sebuah bangsa yang mengaku dan merasa sebagai bangsa yang ramah dan berbudaya…
Kekerasan merupakan salah satu yang sering ditayangkan di layar televisi. Adegan kekerasan ini menyebar dalam berbagai jenis program acara. Apakah itu berita, animasi anak, drama dewasa, drama sinetron, olah raga, reality show.
Sekadar mengambil contoh, adegan kekerasan dalam program berita, diantaranya; Derap Hukum (SCTV, Senin & Selasa pukul 21.30 WIB), Buser (SCTV, Senin-Sabtu pukul 11.30 WIB), Fakta (ANTV, Kamis pukul 22.00 WIB), Kriminalitas (ANTV, Rabu pukul 11.00 WIB), Patroli (Indosiar, Senin-Minggu pukul 11.30 WIB), Bidik ( MetroTV, Rabu dan Kamis pukul 17.30 WIB), Brutal (Lativi, Senin-Minggu pukul 18.00 WIB), TKP Siang ( TV7, Selasa dan Kamis pukul 11.00 WIB), Sergap (RCTI, Senin-Sabtu pukul 12.30 WIB), Sidik (TPI, Senin-Minggu pukul 11.00 WIB), Insert (TransTV, Senin-Minggu pukul 11.00WIB). Sebenarnya masih banyak lagi adegan kekerasan yang termuat dalam berbagai program acara televisi.
Sebagai seorang warga masyarakat, kita harus pandai-pandai mengidentifikasi tayangan-tayangan yang di dalamnya terdapat tindak kekerasan. Saat ini telah banyak tindakan penolakan masyarakat terhadap tayangan-tayangan yang berbau kekerasan. Seperti tayangan ‘smack down’ yang mendapat protes dan kecaman dari masyarakat. Protes dan desakan masyarakat atas kasus ‘smack down’ merupakan hal positif. Tidak perlu dibahas jika hal ini sebagai sesuatu yang terlambat, namun mestinya bisa menjadi stimulus bagi masyarakat untuk mampu mandiri dalam menilai, menyaring serta proaktif terhadap tayangan di televisi. Kepekaan itu harus diciptakan, jangan sampai kelak masyarakat Indonesia benar-benar menjadi tidak sensitif terhadap kekerasan hingga menjadi bangsa Bar-Bar. Masyarakat di sini juga termasuk kalangan perguruan tinggi, asosiasi sosial dan kelompok masyarakat lain di samping individu yang berdiri sendiri. Salah satu dari keindahan reformasi yang harus dioptimalkan dan ditumbuhkan adalah kemandirian masyarakat dalam menyikapi berbagai perkembangan, termasuk tayangan televisi dengan kebebasan pers, sehingga menjadi bangsa yang mandiri dalam berpikir dan bertindak.
Diberhentikannya tayangan ‘ smack down’ bukan berarti tayangan kekerasan sudah tidak ada lagi. Tayangan kekerasan tidak dapat ditiadakan mengingat bahwa tayangan kekerasan yang berupa berita juga merupakan kebutuhan setiap anggota masyarakat. Selain itu, acara lain seperti film apabila tidak mengandung unsur kekerasan akan dianggap tidak seru. Jadi, kesalahan terhadap penayangan kekerasan tidak dapat ditujukan sepenuhnya kepada orang-orang yang berada di stasiun televisi yang menayangkan tindak kekerasan. Semua itu tergantung kita sebagai penonton. Apakah menjadikan tayangan tersebut sebagai pedoman untuk bertingkah laku atau hanya menganggap itu sebagai hiburan semata. Selain itu, kita juga harus selalu mengawasi apabila tayangan tersebut ditonton oleh anak-anak.
Dari banyaknya kasus kekerasan yang terjadi. Hampir semuanya dilakukan karena melihat tata cara kekerasan itu di televisi. Hal itu membuktikan bahwa tayangan di televisi berpeluang memberi efek kepada penonton untuk dapat melakukannya. Kita tidak tahu seberapa besar kemungkinan efek tayangan kekerasan di televisi dapat merugikan penonton. Selain itu, kita harus mencari upaya untuk mengurangi efek merugikan dari tayangan televisi yang mengandung tindak kekerasan.
B. PEMBAHASAN
Tayangan kekerasan merupakan tayangan yang paling sering muncul di televisi. Jadi, bisa dikatakan televisi merupakan media yang paling berperan dalam perkembangan tindak kekerasan.
Secara literatur, beratus studi telah menunjukkan dengan jelas bahwa.. Exposure to media may indeed be one factor contributing to high levels of violence in countries where such materials are viewed by large numbers of persons (e.g., Anderson, 1997; Berkowitz, 1993; Paik & Comstock, 1994; Wood et al, 1991, dalam Baron & Byrne,2000)
Bagaimana media dapat memberikan efek yang tajam dari tayangan kekerasan terhadap penontonnya, setidaknya ada tiga penjelasan yang menarik berikut;
Pertama, media memudahkan orang untuk mempelajari ‘cara-cara baru’ kekerasan yang kemungkinan besar tidak terpikirkan sebelumnya. Disebut juga dengan ‘Copycat crimes’, di mana kekerasan yang bersifat fiksi maupun nyata yang ditayangkan oleh media kemudian ditiru oleh orang lain di tempat lain dengan harapan akan mendapatkan hasil yang serupa.
Kasus anak korban ‘smack down’ menjadi gambaran yang sedang hangat. Terlebih bagi anak-anak, tayangan tersebut bisa memberikan pemahaman yang keliru tentang rasa sakit dan kondisi tubuh manusia. Betapa tidak, tayangan yang menampilkan dua orang yang berbadan kekar saling hantam dengan gaya bebas namun tetap terlihat ‘tidak kesakitan’. Anak akan menganggap bahwa meloncat dan menjatuhkan tubuh di atas tubuh kawannya, misalnya, tidak akan menimbulkan rasa sakit apalagi cacat tubuh bahkan meninggal.
Kedua, de-sensitization effects, berkurang atau hilangnya kepekaan kita terhadap kekerasan itu sendiri. Studi menunjukkan, akibat dari banyaknya menonton tayangan kekerasan, orang tidak lagi mudah merasakan penderitaan atau rasa sakit yang dialami orang lain (Baron, 1974 dalam Baron & Byrne,2000).
Secara biologis, ketika menonton tayangan yang menyakitkan atau kekerasan, aktivitas otak akan bergerak dari ranah bahasa di otak kiri ke otak kanan yang mendominasi proses emosi dan pengkodean gambaran visual. Itu sebabnya menonton memberi dampak emosional yang lebih kuat dari pada membaca. Jika hal ini terlalu banyak, maka kita akan menjadi kebas dan tidak peka lagi dengan kekerasan (Flora, 2004).
Sejak reformasi, televisi kita bisa lebih bebas dalam pemilihan tayangan. Seiring dengan itu, kekerasan pun merebak, berita mulai didominasi dengan tindakan-tindakan anarkis yang tidak jarang bersumber dari sesuatu yang sepele. Masyarakat menjadi sangat mudah disulut api kekerasan. Sayangnya, televisi pun makin getol dengan adegan kekerasan bahkan sebagai hiburan. Coba telusuri program serangkaian film asing yang dijanjikan akan diputar dalam satu bulan, sulit sekali menemukan film keluarga yang bisa menciptakan senyum, tawa, perasaan santai, melepas beban rutinitas dan mendapatkan insight yang positif.
Padahal banyak sekali film yang mengedepankan nilai-nilai kehidupan dari hal kecil seperti perasaan seorang anak di tengah kesibukan orangtua yang disajikan begitu santun, mengelitik, tanpa didominasi teriakan amarah. Mrs. Doubtfire, salah satunya yang sudah berulang kali ditayangkan oleh televisi kita, dan masih banyak lagi yang lain yang semestinya bisa ditampilkan ketimbang film-film yang lebih banyak memamerkan kekerasan. Lebih miris lagi, sinetron-sinetron yang berbungkus nama agama pun diwarnai dengan umpatan, saling pukul dan saling tampar.
Ketiga, periklanan menganggap tayangan kekerasan lebih menjual. Bushman (1998, dalam Baron & Byrne,2000) menemukan hal yang kurang menggembirakan, ternyata orang yang menonton tayangan kekerasan , kemungkinan besar hanya mampu sedikit mengingat isi dari suatu tayangan komersial atau iklan.
Bushman dan Bonacci (2002, dalam Gunter, Furnham & Pappa,2005) semakin menemukan betapa kuatnya pengaruh tayangan kekerasan terhadap penontonnya. Studi mereka menunjukkan bahwa iklan yang tidak menampilkan kekerasan, jika ditayangkan di program televisi yang menayangkan kekerasan, akan sulit diingat dari pada jika ditayangkan di program televisi non-kekerasan. Sebaliknya, iklan yang menampilkan kekerasan akan semakin mudah diingat ketika ditampilkan di program televisi kekerasan. Hal ini dikarenakan tayangan tersebut mendukung dan memudahkan penonton untuk mengingat iklan yang juga berisi adegan kekerasan.
Dalam perkembangannya, televisi menjadi media massa yang sangat mudah untuk mempengaruhi masyarakat. Dalam teori komunikasi dua tahap dan pengaruh antarpribadi, memiliki asumsi-asumsi sebagai berikut :
  1. Individu tidak terisolasi dari kehidupan sosial, tetapi merupakan anggota dari kelompok-kelompok sosial dalam berinteraksi dengan orang lain.
  2. Respon dan reaksi terhadap dari media tidak akan terjadi secara langsung dan segera, tetapi melalui perantaraan dan dipengaruhi oleh hubungan-hubungan sosial tersebut.
  3. ada dua proses yang berlangsung, yang pertama mengenai penerimaan dan perhatian, dan yang kedua berkaitan dengan respon dalam bentuk persetujuan atau penolakan terhadap upaya mempengaruhi atau penyampaian informasi.
  4. Individu tidak bersikap sama terhadap pesan media, melainkan memiliki berbagai peran yang berbeda dalam proses komunikasi, dan khususnya dapat dibagi atas mereka yang secara aktif menerima dan meneruskan gagasan dari media, dan mereka yang semata-mata hanya mengandalkan hubungan personaldengan orang lain sebagai panutannya.
  5. Individu-individu yang berperan lebih aktif ditandai oleh penggunaan media massa yang lebih besar, tingkat pergaulan yang lebih tinggi, anggapan bahwa dirinya berpengaruh terhadap orang lain, dan memiliki peran sebagai sumber informasi dan panutan.
Secara garis besar, menurut teori ini media massa tidak bekerja dalam suatu sistem kefakuman sosial, tetapi memiliki suatu akses ke dalam jaringan hubungan sosial yang sangat kompleks, dan bersaing dengan sumber-sumber gagasan, pengetahuan, kekuasaan, dan yang lainnya. Atau dengan kata lain, media massa dapat bersaing dengan sumber pengetahuan lainnya dalam mempengaruhi individu.
Selain memiliki efek terhadap individu, media massa juga menghasilkan efek terhadap masyarakat dan budayanya. Efek dalam pengertian ini umumnya mengacu pada suatu efek jangka panjang yang tidak langsung. Efek juga bukan hanya merupakan pengaruh suatu pesan tertentu, namun merupakan hasil dari keseluruhan sistem pesan.
Publik dan perhatian riset telah mengarahkan fokus pada pengaruh kekerasan di televisi pada khalayak karena televisi merupakan media massa yang palimg menyebar saat ini dan televisi keras. Survei yang dilakukan oleh A.C. Nielsen Company menandai bahwa akhir 1976 rata-rata rumah tangga AS dengan televisinya telah menyalakan televisi 6,82 jam setiap hari, suatu peningkatan hampir satu jam pada 1963.
Televisi adalah media massa yang paling dipercaya oleh orang dewasa dan sebagian orang yang mengkonsumsi berita dan hiburan. Pada 1974, survei nasional oleh Roper organitation mengemukakan bahwa 65 persen responden dewasa merujuk pada televisi sebagai sumber berita utama. Bukti ini menunjukkan bahwa televisi merupakan kekuatan penting dalam kehidupan kita karena menyita banyak waktu kita.
Gerbner dan Gross telah melakukan serangkaian studi untuk mengukur kekerasan di televisi. Mereka mendefinisikan televisi sebagai ungkapan terbuka kekuatan fisik kepada diri sendiri atau orang lain, memaksa tindakan kepada kemauan orang sehingga dapat melukai atau membunuh, atau benar-benar melukai atau membunuh. Gerbner dan Gross telah meneliti kekerasan TV beberapa tahun sejak 1967. beberapa temuan mereka adalah sebagai berikut :
Persentase program yang berisi kekerasan berkisar dari 80 sampai 90 persen; pada 1977 75,5 persen. Program anak-anak selama akhir pekan pada pagi hari terus-menerus sebagian besar kekerasan. Tingkat per jam tertinggi pada 1976 (9,50) ; pada 1977 terdapat 6,7 serial kekerasan per jam. Tingkat serial kekerasan per program adalah 6,2 pada 1976 dan 5,0 pada 1977. tingkat kekerasan selama jam menonton keluarga (jam 8 sampai 9 malam) menurun pada 1975-1976 ;tetapi tingkat kekerasan pada akhir program malam hari meningkat dengan jelas selama periode yang sama. Dari data ini kita dapat menyimpulkan terdapat kekerasan yang tingkatnya tinggi di televisi, khusus pada program-program yang cenderung ditonton anak-anak.
Tayangan kekerasan di televisi dapat memberi efek yang tidak baik bagi masyarakat. Beberapa efek tayangan kekerasan di televisi diantaranya :
  1. Pelajaran baru tindakan kekerasan
Anak-anak dapat belajar tindakan-tindakan yang agresif dan kompleks yang baru benar-benar melalui pengamatan terhadap tindakan yang ditampilkan oleh seorang model dalam sebuah tayangan televisi.
  1. Dorongan perbuatan agresi
Teori pembelajaran sosial (dan akal sehat) menyatakan bahwa kita tidak benar-benar menampilkan sesuatu yang kita pelajari dari peniruan. Penampilan perilaku akibat belajar itu tergantung pada banyak faktor, keterampilan motorik dari orang yang belajar, peluang untuk menampilkan tindakan itu, dan motivasi. Agresi dalam kehidupan sesungguhnya tidak sama dengan agresi atau kekerasan yanng meyakinkan di televisi. Dorongan terjadi dengan adanya penguatan untuk tindakan kekerasan itu. Oleh karena itu, penguatan akan mempermudah agresi ini. Penguatan agresi dapat terjadi karena individu mengamati seorang model ; hal ini dapat juga karena demi orang lain dengan melakukan tindakan agresi yang ditayangkan di televisi yang diamatinya diberikan alasan pembenar atau diberikan ganjaran.
  1. Penguatan sebelum pengamatan
Prinsip umum dari teori pembelajaran adalah bahwa kita lebih mungkin melakukan tindakan-tindakan yang pernah diberikan ganjaran di masa lalu, sementara tindakan-tindakan yang pernah dihukum cenderung tidak dilakukan. Anak-anak yang terdorong agresif lebih condong telah diperkuat atas tindakannya itu di masa lalu atau mereka mungkin berasal dari lingkungan sosial yang memberikan kelonggaran terhadap agresi.
  1. Penguatan karena orang lain
Menurut teori pembelajaran sosial, kita mempelajari perilaku tidak hanya ketika kita secara langsung diberikan penguatan terhadap dilakukannya perilaku itu melainkan juga karena pengamatan terhadap akibat-akibatnya bila orang lain melakukan tindakan itu.
  1. Penguatan setelah pengamatan
Sebuah prinsip dasar teori pembelajaran sebagaimana yang kita lihat adalah bahwa tanggapan-tanggapan cenderung dilakukan dan dipelajari bila hal itu diberikan ganjaran. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa anak-anak lebih cenderung menampilkan tanggapan agresif yang dipelajari ketika mereka dijanjikan ganjaran atau ketika mereka benar-benar memperoleh ganjaran terhadap dilakukannya tanggapan itu.
Mungkin ada baiknya kita belajar dari sebuah survey, yang salah satunya mengkaji tentang dampak penayangan kekerasan di TV yang akhir-akhir menjadi santapan sehari-hari.
Seperti yang dilansir Dyah A.M pengamat Televisi dari Semarang. Mulai pagi, siang, malam, hingga pagi lagi, kekerasan itu berderet-deret seperti barisan prajurit TNI apel pagi. Ada hasil riset yang menyebutkan, 9 di antara 10 acara TV mengandung kekerasan!
Menurutnya, survei yang lain menunjukkan bahwa menonton tayangan kekerasan akan meningkatkan perilaku agresif dan prokekerasan. Bukan satu atau dua survei, tapi ribuan riset menyimpulkan: menonton tayangan kekerasan meningkatkan perilaku agresif!
Penahapan dalam ”belajar kekerasan” itu bisa dijabarkan sebagai berikut. Pertama, berlangsung tahap belajar metode agresi (observational learning). Setelah terbiasa pada hal itu, kemampuan mengendalikan dirinya berkurang (disinhibition) dan akhirnya tidak lagi tersentuh oleh orang yang menjadi korban agresi (desensitization, penumpulan perasaan).
Kekerasan pun menjadi hal yang dianggap biasa karena berlangsung rutin. Menurut guru besar komunikasi Stephen Kline, hanya diperlukan waktu sejam untuk merasakan efek desensitization, penumpulan perasaan.
Sebuah survei menunjukkan, 800 anak usia 8 tahun -yang banyak nonton kekerasan di TV- cenderung lebih agresif ketika mencapai usia 19-30 tahun serta membuat masalah lebih besar -seperti kekerasan dalam rumah tangga atau pelanggaran lalu lintas.
Meski seseorang tidak agresif pada usia 8 tahun, jika menonton kekerasan di TV dalam jumlah cukup banyak, dia akan menjadi lebih agresif pada usia 19 tahun dibanding yang tidak menonton.
Pengaruh kekerasan tersebut bisa mengenai remaja dan anak-anak dari segala usia, kedua jenis kelamin (laki atau perempuan), serta semua tingkat sosioekonomis (miskin atau kaya) dan inteligensia (IQ tinggi, jongkok, atau merayap). Juga, tidak terbatas pada anak yang sudah agresif serta tidak mengenal asal negara.
Lihat saja berbagai berita kriminal -curat (pencurian dengan kekerasan), pembunuhan, pemerkosaan, mutilasi, dan lain-lain. Semakin banyak saja pelakunya adalah ”orang-orang yang sebelumnya dikenal alim”.
Lalu, dengar saja ”pembelaannya” yang menyatakan bahwa ia melakukan itu hanya meniru atau mempraktikkan apa yang mereka lihat di tayangan TV, video compact disc atau internet.
Mengingat dampak buruk dari yangan televisi ini, memang kita berharap banyak kepada KPI untuk terus bersikap tegas kepada televisi yang membandel, yang kadang hanya mengutamakan keuntungan materi semata tanpa mempedulikan kehancuran generasi bangsa ini karena keburukan akhlak yang disebabkan menonton tayangannya yang disuguhkan. Sembari dengan itu sikap tegas KPI bukan hanya satu-satunya solusi, kita sendiri juga harus tegas memberikan arahan kepada orang-orang yang kita sayangi dalam hal memproteksi dampak buruk ini. Mungkin memulai dari diri, keluarga dan orang sekitar kita sebagai wujud kita peduli adalah satu langkah yang tepat untuk mengatasi masalah ini.
C. KESIMPULAN
Tayangan televisi merupakan media massa yang paling banyak dipergunakan oleh masyarakat. Tidak mengherankan jika banyaknya tindak kekerasan yang ditayangkan di televisi mempengaruhi perilaku seseorang. Efek tayangan kekerasan sangatlah berbahaya bagi orang-orang yang kurang bisa menganalisis dan mengidentifikasi tayangan-tayangan kekerasan di televisi. Seiring dengan semakin banyaknya tayangan yang mengandung unsur kekerasan maka kemungkinan seseorang untuk meniru perilaku itu semakin besar.
Dampak tayangan kekerasan di televisi paling sering melanda anak-anak. Dimana anak-anak menganggap adegan kekerasan tersebut sebagai hiburan. Hal itu akan berpengaruh pada kondisi psikologis anak ketika telah menjadi lebih dewasa. Dia akan merasa sudah terbiasa dengan tindakan kekerasan dan tidak merasa takut untuk melakukannya.
Sampai saat ini upaya untuk menanggulangi penyimpangan perilaku karena tayangan kekerasan di televisi masih sulit untuk dilakukan. Kita sebagai seorang penonton televisi seharusnya lebih pandai untuk tidak meniru adegan-adegan kekerasan yang ada di televisi.
DAFTAR PUSTAKA
Bulaeng, Andi. 2002. Teori dan Manajemen Riset Komunikasi. Jakarta : Narendra
Effendy, Onong Uchjana. 1986. Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktek. Bandung : Remaja Karya CV
http : //www.e-psikologi.com
http : //www.wordpress.com
Muis, A. 1999. Jurnalistik, Hukum dan Komunikasi Massa : Menjangkau Era Cybercommunication Milenium Ketiga. Jakarta : PT. Dharu Anuttama
Pawito. 2007. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta : PT. LkiS Pelangi Aksara
Rivers, William L, Jay Way Jensen and Theodore Peterson. 2004. Media Massa & Masyarakat Modern. Jakarta : Prenada Media
Sendjaja, S. Djuarsa. 1994. Teori Komunikasi. Jakarta : Universitas Terbuka
Severin, Werner J. and James W. Tankard, Jr. 2005. Teori Komunikasi : Sejarah, Metode, & Terapan di Dalam Media Massa. Jakarta : Prenada Media
Soehoet, A.M. Hoeta. 2002. Teori Komunikasi 2. Jakarta : Yayasan Kampus Tercinta-IISIP Jakarta
Supratiknya, A. 1995. Komunikasi Antarpribadi : Tinjauan Psikologis. Yogyakarta : Kanisius
Susanto, Phil. Astrid S. 1977. Komunikasi : Dalam Teori dan Praktek. Jakarta : Binacipta
Winarso, Heru Puji. 2005. Sosiologi Komunikasi Massa. Jakarta : Prestasi Pustaka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar